Kiai Said, Ulama Hebat Di Zaman yang Tepat

Prof. DR. KH. Said Aqil Sirajh (Sumber gambar: nu.or.id)

Ketika radikalisme dan ekstrimisme agama menggerogoti kehidupan berbangsa, ia hadir sebagai salah seorang kiai yang melawan itu semua. Dengan kedalaman ilmunya, ia semburkan kritik-kritik tajam lagi pedas yang terkadang membuat telinga orang-orang yang dikritiknya memerah.

Ketika para wahabian dan kroni-kroninya meracuni kehidupan bermasyarakat, ia tampil sebagai salah seorang kiai yang menjadi anti virus itu semua. Dengan pemikiran moderatnya, ia taburkan gagasan Islam Nusantara yang membuat masyarakat terlindungi dari racun para wahabian yang berbahaya.

Ketika para perongrong Pancasila dan NKRI seperti HTI dan sejenisnya mencoba merusak tatanan kehidupan bernegara, ia tampil menjadi salah seorang kiai yang menjadi penghalang kepentingan politik mereka. Dengan komitmen kebangsaannya, ia membela Pancasila dan NKRI sebagai bagian dari warisan luhur ulama pendahulunya.

Maka saya secara pribadi tak heran, jika kiai alumni Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qura Arab Saudi ini dituduh dan difitnah serta dihina habis-habisan oleh orang-orang yang merasa terhalangi akibat keberadaannya.

Suatu hari, kepada Kiai Said, Gus Dur pernah berkata: "Pak Said, sampeyan besok akan menjadi Ketua Umum PBNU. Tapi pada saat kepemimpinan sampeyan, NU akan mengalami badai fitnah yang besar, bahkan dahsyat. Tapi sampeyan tidak usah khawatir karena fitnah itu cuman sebentar dan NU akan menemukan lagi kejayaannya."

Dan apa yang dikatakan Gus Dur itu benar. Kiai Said dituduh sebagai kaki tangan zionis yahudi hingga sebagai seorang liberal yang merusak agama. Bahkan ia difitnah sebagai antek Syiah. Bukan hanya pribadinya, badai fitnah juga menyerang jam'iyah yang dipimpinnya.

Tapi itu semua tak menurunkan wibawanya sebagai seorang pemimpin organisasi Islam terbesar di dunia. Bersama jam'iyah Nadlatul Ulama ia tetap menjaga dan merawat Indonesia dengan karakter Islam yang tasawassuth, tawazun, i'tidal dan tasamuh.

Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini  tidak hanya diakui sebagai ulama hebat di Indonesia, tetapi juga di dunia. Ia berada di posisi 20 dari 500 tokoh muslim yang berpengaruh di dunia tahun 2019.

Kehebatan dan kealimannya itu tak membuatnya jemawa. Mengutip sebuah pepatah: "Dipuji tidak terbang, dihina tidak tumbang" Seperti itulah saya melihat Kiai Said dalam menanggapi pujian ataupun hinaan.

Kiai Said hadir di zaman yang tepat. Memimpin NU diwaktu yang tepat. Hadir untuk Indonesia di kondisi yang tepat.

Selamat hari lahir yang ke-66 tahun Kiai Said. Barakallah fii umrik. Semoga selalu sehat wal afiat.

Saya berharap nanti bisa bertemu dan mencium tangan Kiai sebagai tanda penghormatan akan kezuhudannya, kebaikannya, keilmuannya dan kedudukannya. Dan juga untuk ngalap berkah tentunya.(*)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Pak Jokowi vs Selamat Pak Prabowo

Pembukaan

Bela Agama Di MK, Agama Apa?