Memulangkan Pak Rizieq
Habib Rizieq Shihab (foto: liputan6.com)
Di saat para elit-elit politik nasional khususnya di kubu pemenang Pilpres sibuk meminta kursi mentri, di kubu yang kalah malah meminta memulangkan Pak Rizieq pada Presiden Jokowi. Permintaan itu disampaikan mantan jubir BPN Bang Dahnil dan didukung oleh beberapa politisi Gerindra yang katanya sebagai salah satu syarat rekonsiliasi.
Meminta kursi mentri ke Pak Jokowi itu wajar saja, tapi kalau meminta kursi mentri ke Pak Prabowo itu terbalik namanya. Sama juga soal meminta memulangkan Pak Rizieq ini. Meminta ke Pak Prabowo itu wajar saja, tapi kalau meminta ke Pak Jokowi itu terbalik namanya. Dan kampret itu memang suka terbalik. Ah... sudahlah, cebong dan kampret itu sudah berakhir. Yang belum berakhir itu namanya cebong benaran dan kampret benaran.
Tapi ngomong-ngomong kenapa ya, kepulangan Pak Rizieq saja harus meminta ke Presiden? Memangnya yang nyuruh Pak Rizieq pergi dan berlama-lama di Arab itu Pak Jokowi ya? Atau Pak Rizieq lama nggak pulang-pulang karena dilarang Pak Jokowi ya?
Perginya, pergi sendiri, kok pulangnya minta dipulangkan sama Pak Jokowi. Aduh...imam yang dibesar-besarkan itu ternyata kalah sama Jelangkung, yang datangnya tak diundang, pun pulangnya tak diantar. Pergi sendiri, yaa pulangnya juga sendiri.
Andai Pak Rizieq tidak punya duit untuk membeli tiket pesawat, Kepala Kantor Staf Presiden, Pak Muldoko udah siap kok memberi bantuan tiket untuk pulang ke Indonesia. Tergantung Pak Rizieq saja, mau apa tidak.
Menurut Dubes Indonesia untuk Arab Saudi, Pak Rizieq tidak boleh meninggalkan Arab sebelum membayar denda. Ia terlalu kelamaan di Arab sampai-sampai waktu tinggalnya di Arab sudah lewat alias overstay. Ia harus bayar denda 110 juta rupiah per orang. Mereka berjumlah 5 orang, jadi harus membayar stengah milyar lebih. Wah... besar sekali. Mungkin mengikuti statusnya sebagai imam yang dibesar-besarkan sehingga dendanya juga dibesar-besarkan ya? Hehehe...
Andai masalahnya memang karena besarnya denda yang harus dibayar Pak Rizieq ke pemerintah Arab. Dan Pak Rizieq tidak mampu membayarnya sendiri. Sebenarnya gampang saja solusinya. Tak harus meminta ke Presiden Jokowi. Kan malu-maluin saja bro.
Menurut saya paling tidak ada dua solusi. Pertama, minta tolong langsung ke Pak Prabowo atau Pak Hasyim adiknya Pak Prabowo. Kan mereka keluarga konglomerat punya banyak kekayaan yang berlipat-lipat. Setengah milyar itu kekecilan. Apalagi Pak Rizieq punya andil besar dalam suksesi Pilpres kemarin sehingga paslon Prabowo-Sandi dapat juara dua alias medali perak.
Kedua, minta tolong ke PA 212. Berdasarkan klaim jumlah jamaah PA 212 itu ada 11 juta orang. Patungan seribu rupiah perorang saja bisa menghasilkan satu milyar lebih. Itu sudah lebih dari cukup untuk membayar denda dan biaya kepulangan Pak Rizieq. Masa' menyumbang untuk dana kampanye paslon Prabowo-Sandi bisa sementara untuk kepulangan sang imam nggak bisa. Apa kata dunia!
Semoga Pak Rizieq sehat wal afiat dan bisa pulang kembali ke Indonesia. Karena ia telah memberi warna bagi perpolitikan di Indonesia. Sekalipun warna yang ia berikan itu agak gelap dan berpotensi membawa kegelapan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun bukan kah tidak akan ada yang disebut penerang jika tak ada yang namanya kegelapan? (*)

Komentar
Posting Komentar