Gerindra Baiknya Belajar Ke PDIP


Prabowo Subianto (Sumber gambar: kaskus.co.id)

Saya rasa benar bahwa dalam politik tidak ada kawan atau lawan yang abadi. Hanya kepentingan lah yang abadi. Tetapi bukan berarti Gerindra harus menerima  tawaran jatah menteri. Terlalu murah jika partai urutan kedua Pemilu 2019 ini digadai dengan beberapa kursi menteri.

Saya pikir juga benar bahwa demi mempersatukan kembali terbelahnya masyarakat pasca Pemilu dan Pilpres mesti ada rekonsiliasi. Tetapi bukan berarti Gerindra harus ikut bergabung dalam pemerintahan Presiden Jokowi. Terlalu pragmatis jika partai yang dipimpin Prabowo ini menggunakan alasan rekonsiliasi untuk ikut ambil jatah kekuasaan di pemerintahan Presiden Jokowi.

Gerindra harus berani menyatakan diri sebagai partai oposisi sampai lima tahun mendatang. Konsisten melanjutkan keoposisiannya sejak lima tahun belakangan. Jangan karena kekalahan beruntun dalam Pilpres, kemudian tergiur dengan tawaran kekuasaan.

Sepertinya memang Prabowo dan Gerindra baiknya banyak belajar pada langkah Megawati dan PDI Perjuangan. Karena saya melihat posisi Prabowo dan Gerindra saat ini sama dengan posisi Megawati dan PDI Perjuangan saat kalah beruntun dalam Pilpres.

Pilpres 2004, Megawati yang merupakan Capres dari PDI Perjuangan kalah oleh SBY Capres dari Demokrat. Megawati dan PDI Perjuangan berani memilih oposisi, berjuang di luar kekuasaan. 

Selanjutnya Pilpres 2009, Megawati kembali jadi Capres PDI Perjuangan. Lagi-lagi oleh Capres petahana SBY, mereka dikalahkan. Tapi mereka tetap konsisten memilih sebagai oposisi, tak mau dengan tawaran kekuasaan.

Di sini hebatnya Megawati dan PDI Perjuangan. Mereka sabar menunggu waktu yang tepat untuk bisa menjadi pemenang. Mereka berani dan konsisten menjadi oposisi yang hadir mengkritik pemerintahan. Sikap mereka membuat kehidupan demokrasi lebih dinamis, dimana check and balance berjalan maksimal terhadap jalannya pemerintahan.

Dan akhirnya, di Pemilu dan Pilpres 2014 dan 2019 berturut-turut mereka jadi pemenang. Sekalipun bukan lagi Megawati yang diusung, tetapi keberanian dan konsistensi mereka dalam mengambil sikap politik membuahkan hasil yang gemilang. Dua periode mereka mampu bertahan. 

Maka tidak ada salahnya jika Prabowo dan Gerindra ingin jadi pemenang di Pemilu dan Pilpres selanjutnya, belajarlah pada Megawati dan PDI Perjuangan. Jangan malu belajar pada lawan politik, lagian kalian pernah satu barisan.

Tentu tetap belajar juga terhadap pengalaman kekalahan-kekalahan yang telah dialami sendiri. Karena kata orang bijak, pengalaman adalah guru terbaik.

Semua berpulang ke Prabowo dan Gerindra. Merekalah yang lebih paham langsung kebutuhan politik mereka untuk mewujudkan target-target politiknya. Namun menjadi oposisi bukan hanya untuk kebutuhan politik, tetapi juga kebutuhan demokrasi kita untuk lebih baik. Sementara bergabung dengan pemerintahan, saya berani pastikan itu adalah kebutuhan politik semata untuk mendapatkan kue kekuasaan.

Meminjam kalimat seorang kritikus dan novelis yang juga peraih nobel sastra dunia, George Bernard Shaw (1856-1950): "Kebutuhan politik terkadang berubah menjadi kesalahan politik." Jangan sampai hanya karena kebutuhan politik semata, Prabowo dan Gerindra melakukan kesalahan politik yang membuat mereka terus-terusan kalah.(*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Pak Jokowi vs Selamat Pak Prabowo

Pembukaan

Bela Agama Di MK, Agama Apa?