Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Runtuhnya Kerajaan Cebong dan Kampret

Gambar
Pak Prabowo dan Pak Jokowi (foto: istimewa) Akhirnya Pak Jokowi dan Pak Prabowo bertemu. Dua tokoh nasional yang dua kali berseteru. Di Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Tapi perseteruan panasnya di Pilpres 2019. Masyarakat terbelah di dua kubu berbeda. Sangat terpolarisasi hingga di arus bawah. Saking panasnya perseteruan ini, pemilih fanatik kedua Capres membuat kerajaan masing-masing. Di kubu Pak Jokowi ada kerajaan Cebong. Sementara di kubu Pak Prabowo ada kerajaan Kampret. Dua kerajaan ini terus melakukan peperangan. Saring serang. Sebelum Pilpres atau di masa kampanye. Bahkan setelah Pilpres selesai dan pemenang Pilpres sudah ditetapkan pun mereka terus saja berperang. Dan lokasi utama peperangannya adalah media sosial.  Namun kini dua kerajaan itu runtuh. Bukan karena bom atom seperti runtuhnya kota Nagasaki dan Hirosima. Tapi karena terjadinya pertemuan yang sangat menyejukkan antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo dengan pernyataan masing-masing kedua tokoh nasi...

Memulangkan Pak Rizieq

Gambar
Habib Rizieq Shihab (foto: liputan6.com) Di saat para elit-elit politik nasional khususnya di kubu pemenang Pilpres sibuk meminta kursi mentri, di kubu yang kalah malah meminta memulangkan Pak Rizieq pada Presiden Jokowi. Permintaan itu disampaikan mantan jubir BPN Bang Dahnil dan didukung oleh beberapa politisi Gerindra yang katanya sebagai salah satu syarat rekonsiliasi. Meminta kursi mentri ke Pak Jokowi itu wajar saja, tapi kalau meminta kursi mentri ke Pak Prabowo itu terbalik namanya. Sama juga soal meminta memulangkan Pak Rizieq ini. Meminta ke Pak Prabowo itu wajar saja, tapi kalau meminta ke Pak Jokowi itu terbalik namanya. Dan kampret itu memang suka terbalik. Ah... sudahlah, cebong dan kampret itu sudah berakhir. Yang belum berakhir itu namanya cebong benaran dan kampret benaran. Tapi ngomong-ngomong kenapa ya, kepulangan Pak Rizieq saja harus meminta ke Presiden? Memangnya yang nyuruh Pak Rizieq pergi dan berlama-lama di Arab itu Pak Jokowi ya? Atau Pak Rizi...

Pak Harto

Gambar
(Soeharto, Presiden RI ke-2) Pak Harto , presiden ke-2 Republik Indonesia. Sang Jendral yang duduk di kursi Presiden 32 tahun lamanya. Dikenal sebagai Bapak Pembangunan dengan program Repelitanya.  Di zaman itu harga-harga kebutuhan pokok terjangkau karena murah. Beras bahkan swasembada. Pertumbuhan ekonomi pernah mencapai 10,92 pada 1970, pertumbuhan yang luar biasa. Indonesia disegani dunia. Bahkan sempat menjadi Macan Asia. Karena keadaan seperti itu, tidak sedikit orang ingin kembali di zaman Pak Harto. Muncul kalimat di publik: "Piye kabare? Enak jamanku to?" "Nda tau juga bro. Saya nda rasa pemerintahan jaman Pak Harto," jawab saya jika ditanya demikian.  Di saat lengser saya masih kelas 2 SD. Tujuh tahun saja saya hidup di eranya. Itupun saya masih anak-anak yang belum tahu apa-apa. Praktis saya tidak tahu bagaimana rasanya. Karena bicara enak dan tidak enak itu soal rasa.  Berdasarkan cerita orang-orang tua saya, zamannya ras...

Marak Politisasi Agama, Kok Mau Menghapus Mapel Agama?

Gambar
(Lambang Kemendikbud) Publik akhir-akhir ini diramaikan dengan soal wacana penghapusan mata pelajaran (mapel) agama di kurikulum pendidikan. Wacana itu dikeluarkan oleh S.D. Darmono yang dikenal sebagai seorang pejuang kebudayaan.  Chairman Jababeka Group itu beralasan, agama dijadikan alat politik karena agama dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Itu sebabnya ia menyarankan ke Presiden Jokowi agar mapel agama dihapuskan. Pendidikan agama cukup diberikan di luar sekolah seperti di masjid, gereja, pura, vihara dan tempat lainnya yang masih relevan. Sebenarnya maksudnya baik, untuk meminimalisir politisasi agama dimana agama dijadikan sebagai alat politik kekuasaan. Selain itu juga, demi menonjolkan sikap toleransi dan menguatkan kebhinekaan. Tapi dengan mengorbankan mapel agama, itu keterlaluan. Kalau kata Bang Haji Rhoma Irama: "terlalu" . Kasian mapel agama. Hanya karena ulah sekelompok orang yang menjadikan agama sebagai alat politik mencari kekuasaan, ...

Gerindra Baiknya Belajar Ke PDIP

Gambar
Prabowo Subianto (Sumber gambar: kaskus.co.id) Saya rasa benar bahwa dalam politik tidak ada kawan atau lawan yang abadi. Hanya kepentingan lah yang abadi. Tetapi bukan berarti Gerindra harus menerima  tawaran jatah menteri. Terlalu murah jika partai urutan kedua Pemilu 2019 ini digadai dengan beberapa kursi menteri. Saya pikir juga benar bahwa demi mempersatukan kembali terbelahnya masyarakat pasca Pemilu dan Pilpres mesti ada rekonsiliasi. Tetapi bukan berarti Gerindra harus ikut bergabung dalam pemerintahan Presiden Jokowi. Terlalu pragmatis jika partai yang dipimpin Prabowo ini menggunakan alasan rekonsiliasi untuk ikut ambil jatah kekuasaan di pemerintahan Presiden Jokowi. Gerindra harus berani menyatakan diri sebagai partai oposisi sampai lima tahun mendatang. Konsisten melanjutkan keoposisiannya sejak lima tahun belakangan. Jangan karena kekalahan beruntun dalam Pilpres, kemudian tergiur dengan tawaran kekuasaan. Sepertinya memang Prabowo dan Gerindra bai...

Kiai Said, Ulama Hebat Di Zaman yang Tepat

Gambar
Prof. DR. KH. Said Aqil Sirajh  (Sumber gambar: nu.or.id) Ketika radikalisme dan ekstrimisme agama menggerogoti kehidupan berbangsa, ia hadir sebagai salah seorang kiai yang melawan itu semua. Dengan kedalaman ilmunya, ia semburkan kritik-kritik tajam lagi pedas yang terkadang membuat telinga orang-orang yang dikritiknya memerah. Ketika para wahabian dan kroni-kroninya meracuni kehidupan bermasyarakat, ia tampil sebagai salah seorang kiai yang menjadi anti virus itu semua. Dengan pemikiran moderatnya, ia taburkan gagasan Islam Nusantara yang membuat masyarakat terlindungi dari racun para wahabian yang berbahaya. Ketika para perongrong Pancasila dan NKRI seperti HTI dan sejenisnya mencoba merusak tatanan kehidupan bernegara, ia tampil menjadi salah seorang kiai yang menjadi penghalang kepentingan politik mereka. Dengan komitmen kebangsaannya, ia membela Pancasila dan NKRI sebagai bagian dari warisan luhur ulama pendahulunya. Maka saya secara pribadi tak heran, jika...

Anjing, Bom, Cinta dan Tempat Suci

Gambar
(Seorang perempuan masuk masjid bersama anjingnya/foto:istimewa) Berani sekali perempuan itu. Ia membawa anjingnya masuk masjid, juga tanpa melepas sepatu. Dengan galaknya ia berteriak-teriak, hingga menarik perhatian orang di sekitaran situ. Ia dijegat oleh beberapa jamaah masjid. Ia tidak hanya membentak, tapi sempat juga beradu fisik. Ia mempertahankan diri dari jegatan sambil menyampaikan alasannya masuk masjid. Ia juga mengaku beragama Katolik. Video yang merekam kejadian itu menjadi viral. Menjadi bahasan yang ramai di media sosial. Lahir berbagai tanggapan dan komentar di publik.  Banyak yang menghardik perempuan itu. Dicaci. Dimaki. Bahkan berpotensi dipersekusi. Ia dianggap mengotori tempat suci. Dulu. Ada juga perempuan yang saya anggap berani. Ia bercadar. Ia membawa dua orang putrinya. Ia sempat dihalangi oleh satpam. Masih di halaman gereja, belum sempat masuk ke dalam, tiba-tiba ia meledakkan diri. Seketika ia tewas. Kedua putrinya pun ikut...

Membalas Surat Anjas: Kamu Memang "Anak Spesial"

Gambar
(Anjas Pramono/ sumber gambar: facebook) Saat itu, sambil minum teh, saya membuka-buka beranda facebook yang begitu ramai. Beragam status, curhatan, aktifitas hingga informasi dari netizen tersaji.  Saya berhenti di postingan akun Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang dikelola oleh bidang media PB PMII. Saya melihat gambar yang menyertai tulisan dalam postingan itu. Di situ ada tertulis: "Surat Dari Anjas: Disabilitas Menembus Batas" Ternyata tulisan itu adalah sebuah surat yang ditulis seorang sahabat yang bernama lengkap Anjas Pramono. Saya pun membacanya dengan saksama dalam tempo yang tidak singkat. Soalnya saya benar-benar larut dalam tulisan itu. Setiap kalimat, setiap paragraf, saya baca dengan hikmat. Surat itu berisi tentang perjalanan hidup Anjas. Ia seorang disabilitas. Ia tunadaksa, fisiknya terbatas. Namun dengan keyakinan dan kegigihannya, ia mampu menembus batas. Selesai membacanya, saya pun tergerak untuk membalas suratnya itu. Pal...

Permohonan Ditolak, Itjima Ulama Bertindak

Gambar
(Novel Bamukmin Jubir PA 212/ Sumber gambar: republika.co.id) Ada sebuah ungkapan yang terkenal di kalangan muda-mudi terkait dunia cinta dan asmara. "Cinta ditolak, dukun bertindak."  Ketika cinta seseorang ditolak secara keseluruhan oleh pujaan hatinya. Kemudian penolakan itu tidak diterima, maka selanjutnya menggunakan cara ekstrim yaitu meminta bantuan dukun untuk mewujudkan hasrat cintanya. Seperti itu kira-kira. Entah kalau di dunia politik, khususnya terkait keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap sengketa hasil Pilpres. MK sudah memutuskan menolak secara keseluruhan permohonan pemohon.  Apakah akan ada juga ungkapan yang seperti di atas? Misalnya, "Permohonan ditolak, dukun bertindak" . Saya rasa tidak. Koalisi sudah bubar. BPN juga otomatis bubar. Keputusan MK sudah diterima dan dihormati oleh pihak pemohon. Ehh... tapi sabar dulu ya. Masih ada kelompok yang belum menerima. Bahkan sepertinya menolak keputusan MK. Mereka adalah ...

Selamat Pak Jokowi vs Selamat Pak Prabowo

Gambar
(Sumber gambar: detik.com) Setelah saya hitung-hitung, ternyata sudah tiga kali saya mengucapkan selamat yang berbeda buat Pak Jokowi pasca pencoblosan dalam Pilpres 2019 lalu. Saya yakin publik juga demikian, khususnya para simpatisan dan pendukung beliau. Pertama selamat sebagai Presiden terpilih berdasarkan hasil Quick Count berbagai lembaga survey nasional ternama. Kedua selamat sebagai Presiden terpilih berdasarkan hasil perhitungan KPU Republik Indonesia. Dan yang ketiga sekarang, selamat sebagai Presiden terpilih berdasarkan sidang MK yang menolak gugatan pemohon dalam hal ini pihak BPN 02. Ucapan selamat publik kepada Pak Jokowi belum akan berhenti sampai di situ. Ucapan selamat akan kembali membanjirinya saat pelantikan sebagai Presiden periode 2019-2024. Jadi total ada empat jenis ucapan selamat. Semoga Pak Jokowi tidak jemawa dengan koleksi ucapan selamat ini. Lalu bagaimana dengan Pak Prabowo? Ia juga mendapat ucapan selamat. Ada satu kali ucapan selamat, yaitu s...

Bela Agama Di MK, Agama Apa?

Gambar
(Sumber gambar: suara.com) Kelompok Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) rencanya akan melakukan aksi saat sidang pembacaan putusan sengketa hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi. Padahal sang Capres yang mereka dukung termasuk BPN 02 sudah menghimbau untuk tidak melakukan aksi. Entahlah, himbauannya ini serius atau setengah hati. Karena ada juga dari pihak BPN yang menyatakan, soal aksi di MK, PA 212 tak bisa diintervensi. Bahkan tak bisa melarang mereka aksi. PA 212 berdalih bahwa aksi itu adalah gerakan bela agama. Kok bela agamanya di MK? Memangnya MK itu Mahkamah Keagamaan ya? Yang akan memutuskan agama A tidak boleh ada di Indonesia. Para penganut agama B tak boleh beribadah di Indonesia. Kan tidak begitu. MK akan memutuskan apakah menerima atau menolak gugatan BPN 02. Karena Indonesia adalah negara hukum dan masyarakatnya diatur oleh hukum konstitusi negara, apapun keputusannya harus diterima. Saya terkadang bingung dengan kelompok yang langganan menamakan aksinya denga...

Demam Impor

Gambar
(Sampah Impor/ Sumber gambar: detik.com) Di negara kita ini apa saja diimpor. Beras, dimpor. Gula, dimpor. Garam, dimpor. Sapi, dimpor. Bagi saya itu biasa saja sih. Banyak juga negara berkambang atau maju yang impor komoditi seperti ini. Tidak jadi masalah selama dilakukan secara proposional sesuai stok dan kebutuhan masyarakat dalam negeri. Jangan juga kebablasan yang tujuannya mencari keuntungan untuk memenuhi saku pribadi. Ada juga impor tenaga kerja. Tenaga kerja asing (TKA). Banyak dipekerjakan di proyek-proyek pembangunan pabrik atau tambang yang mayoritas dari negara Cina. Ini juga sebenarnya tidak terlalu jadi masalah. Selama TKA yang didatangkan yang spesialis teknis atau profesional yang kira-kira sumber daya manusia Indonesia terbatas atau tidak bisa. Sekarang ada lagi wacana baru yang digulirkan. Impor guru sekolahan. Impor maskapai penerbangan. Ini juga bukan tanpa alasan. Sedikitnya bisa diterima, asal tetap dengan catatan. Guru yang benar-benar kompeten dan ...

Andai Deddy Dibimbing Baequni

Gambar
(Sumber gambar: jejak-iblis.blogspot.com) Sang mentalis Deddy Corbuzier akhirnya masuk Islam. Di bawah bimbingan seorang kiayi muda Nahdlatul Ulama (NU) yang dikenal nyentrik Gus Miftah, ia mengucapkan dua kalimat syahadat di pondok pesantren Ora Aji Sleman, Yogyakarta pimpinan Gus Miftah sendiri pada Jum'at, 21 Juni 2019. Pria yang bernama lengkap Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo ini tidak salah memilih Gus Miftah sebagai pembimbingnya. Sebagai seorang kiayi NU, pastinya Gus Miftah akan mengenalkan dan mengajarkannya Islam yang berkarakter ramah bukan marah. Islam yang lembut suka mengasihi bukan yang keras suka menakut-nakuti. Islam yang moderat bukan yang suka melaknat. Saya coba membayangkan, andai saja Deddy memilih Ustadz Rahmat Baequni. Ustadz yang terkenal dengan ceramah akhir zaman dan konspirasi. Bagaimana jadinya ya? Mungkin Deddy bukan mendekat dengan Islam malah akan lari. Bagaimana tidak mau lari, baru kenalan Deddy bisa jadi akan dituduh bagian dari ...

Pembukaan

Gambar
(Foto: Falihin Barakati) Bahwa sesungguhnya menulis itu adalah hak setiap orang dan oleh sebab itu, maka pelarangan menulis harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prinsip demokrasi baik kebebasan berpendapat maupun berekspresi. Dan perjuangan pergerakan saya untuk menulis telah sampailah kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa mengantarkan saya ke depan pintu gerbang dunia  blogger  yang merdeka, terbuka, suka dan terkadang juga duka. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya menulis yang bebas, maka saya menyatakan ini blog saya dengan judul  Catatan FB  (FB yang dimaksud di sini bukan singkatan dari  Facebook  tetapi Falihin Barakati). Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu blog yang dapat menyampaikan informasi tanpa  hoax  dan pemikiran kritis serta cerita pengalaman yang menghibur ke segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia khususnya pa...