Anjing, Bom, Cinta dan Tempat Suci
(Seorang perempuan masuk masjid bersama anjingnya/foto:istimewa)
Berani sekali perempuan itu. Ia membawa anjingnya masuk masjid, juga tanpa melepas sepatu. Dengan galaknya ia berteriak-teriak, hingga menarik perhatian orang di sekitaran situ.
Ia dijegat oleh beberapa jamaah masjid. Ia tidak hanya membentak, tapi sempat juga beradu fisik. Ia mempertahankan diri dari jegatan sambil menyampaikan alasannya masuk masjid. Ia juga mengaku beragama Katolik.
Video yang merekam kejadian itu menjadi viral. Menjadi bahasan yang ramai di media sosial. Lahir berbagai tanggapan dan komentar di publik.
Banyak yang menghardik perempuan itu. Dicaci. Dimaki. Bahkan berpotensi dipersekusi. Ia dianggap mengotori tempat suci.
Dulu. Ada juga perempuan yang saya anggap berani. Ia bercadar. Ia membawa dua orang putrinya.
Ia sempat dihalangi oleh satpam. Masih di halaman gereja, belum sempat masuk ke dalam, tiba-tiba ia meledakkan diri. Seketika ia tewas. Kedua putrinya pun ikut tewas. Juga satpam itu, tewas. Banyak jemaat mengalami luka berat dan ringan. Ternyata perempuan itu melakukan bom bunuh diri.
Kejadian ini sempat terekam CCTV. Ramai menjadi bahasan publik. Indonesia berdukacita. Publik berbelasungkawa. Tidak hanya yang beragama nasrani tetapi juga yang muslim.
***
Dua kejadian itu sama-sama terjadi di dua tempat suci yang berbeda. Yang pertama di tempat suci umat muslim. Yang kedua di tempat suci umat nasrani. Pun pelakunya juga sama-sama perempuan, tapi berbeda keyakinan. Yang pertama nasrani. Yang kedua muslim.
Dalam melakukan aksinya kedua perempuan itu sama-sama tidak sendirian. Yang pertama membawa anjingnya. Yang kedua membawa dua putrinya plus membawa bom.
Motiv kedua perempuan ini dalam melakukan aksinya pun sama, yaitu karena cinta. Yang pertama karena cinta terhadap suaminya. Ia mencarinya di masjid karena mendengar kabar suaminya yang mualaf akan menikah di situ. Yang kedua karena cinta terhadap agamanya. Ia membunuh orang yang dianggap kafir dengan meledakkan diri dan menganggap diri mati syahid karena mati di jalan Tuhan.
Dari sisi korban, sama-sama juga melahirkan korban. Yang pertama korban perasaan karena tempat yang dianggap suci dikotori. Yang kedua, bukan hanya korban perasaan tetapi juga korban nyawa dan tempat sucinya tidak hanya dikotori tapi juga dihancurkan.
***
Setelah membandingkan dua kejadian ini, masih kah kita mau terprovokasi oleh sikap kurang baik yang ditunjukkan seorang perempuan nasrani yang masuk masjid bersama anjingnya itu? Masikah kita mau memprovokasi publik dengan membangun sentimen agama hanya karena perempuan dan seekor anjing di masjid? Masih kah kita mau membesar-besarkan masalah ini dengan narasi-narasi kebencian yang membabibuta? Hanya orang-orang yang pandangannya memakai kacamata kuda yang akan seperti itu.
Sebagai negara hukum, kita serahkan dan percayakan kasus itu ke proses hukum yang sedang berjalan. Kita tidak perlu membesar-besarkan masalah ini dengan cacian dan makian dan menyeret-nyeretnya ke sentimen agama.
Mari kita jaga kerukunan antar umat beragama. Bangsa kita sudah terlalu banyak luka hanya karena suatu masalah yang dihubung-hubungkan dengan agama. Padahal agama semestinya dijadikan obat penyembuh segala luka dengan saling memaafkan, saling mengasihi dan saling menghormati. Dan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin dan merupakan agama mayoritas penduduk Indonesia, punya peran sangat dan paling besar di situ.
Saya teringat dengan potongan kalimat bijak dalam ceramah KH. Zainuddin MZ: "Yang mayoritas jangan menang sendiri. Yang minoritas harus tahu diri." Suatu pesan moril dalam upaya menjaga kerukunan antar umat beragama khususnya dalam satu bangsa Indonesia.(*)

Komentar
Posting Komentar